Jumat, 10 Agustus 2018

Anak-anak Kampung korban politik

Pesta demokrasi adalah Hal biasa bagi orang dewasa,saling propaganda kacau ribut demi partai yang diusungnya.Di pedesaan ajang pilkada merupakan ajang permusuhan warga kampung bahkan suami istri berkelahi karena tidak sepaham akan pilihannya.Terasa panas dan menakutkan serta mencengangkan.Orang-orang dewasa sangat bahagia dengan situasi seperti demikian,Bangga dengan janji janji politik dan tokoh yang di pegangnya.. Tetapi mereka lupa anak-anak usia dini ,pra sekolah bahkan SD dan SMP menonton ,merekam semua tindakan mereka,permusuhan mereka.Anak-anak kampung korban politik semoga mereka bisa lupa tentang pesta pilkada ,pertarungan orang dewasa.Semoga mereka bisa memiliki masa sendiri ketika dewasa nanti dimana demokrasi lebih moderen ,transparansi dan akuntabel.Semoga anak-anak kampung dimasanya nanti mereka tahu baik dan buruk politik yang mereka yakini,setidaknya mereka memperkecil permusuhan dan lebih menghargai perbedaan pendapat seperti yang terjadi di Kota,ku sebut korban politik karena harusnya masa kecil mereka tidak terganggu dengan bendera bendera partai dan orang tuapun tidak mengarahkan anaknya sesuai situasi,sayangnya itu tidak bisa dihindari...anak-anak kecilpun berteriak dan ikut kampanye menyarakan pilihan orang dewasa.Sesungguhnya mereka harus memiliki masa indah bermain belajar dengan riang gembira,tanpa tahu urusan orang dewasa,Menginginkan situasi dimana pilkada tidak mengkotakkan anak-anak adalah wajar..Mungkin ketika proses pilkada berlangsung para tokoh pencinta anak mengalihkan perhatian anak-anak dengan kegiatan lomba atau kerja bakti bersama membersihkan pantai dari sampah plastik dll,Sayangnya itupun susah terwujud karena semua orang dewasa tokoh agama,guru dll pikirannya tercurah pada proses pilkada dan anak-anak pun tak bisa dihindari jadi korban situasi politi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar