Minggu, 24 Oktober 2021

Hari yang baru

 Tentang luka yang tiada akhir

 Kemana damai bermuara 

 Bila untuk menjadi tegar 

Harus mengorbankan hati  yang lara 


 Hiduplah dengan cinta baru

 Terbang menari diatas awan

 Sampai lupa perihnya  kalbu

 Yang menyayat  impian 


Burung camar terbang jauh 

Kompas hati membawanya  

Singgah di cabang  yang jatuh 

Ada hati yang harus di tata 


Rabu, 10 Februari 2021

Sumpah Pemuda sebagai tonngak sejarah pemersatu bangsa

 

Peran Perjuangan Pemuda dalam Organisasi Kepemudaan Peristiwa sejarah Soempah Pemoeda atau Sumpah Pemuda merupakan suatu pengakuan dari Pemuda-Pemudi Indonesia yang mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28
Oktober 1928 hasil rumusan dari Kerapatan Pemoeda-Pemoedi atau Kongres Pemuda II Indonesia yang hingga kini setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.Sumpah Pemuda merupakan babak baru bagi perjuangan bangsa Indonesia karena perjuangan yang bersifat lokal
kedaerahan berubah menjadi perjuangan yang bersifat nasional. Para pemuda sadar bahwa perjuangan yang bersifat lokal adalah sia-sia. Mereka juga sadar bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuan cita-citakemerdekaan dapat diraih.

Kongres Pemuda 1 

Menerima dan mengakui cita – cita persatuanIndonesia, walaupun perumusannya masih samar – samar dan belum jelas.Oleh karena itu, antara PPPI, Pemuda Indonesia, Perhimpunan Indonesia, danPNI berencana untuk memfusikan organisasi mereka dengan alasan untuk
mewujudkan persatuan Indonesia dan persamaan cita – cita.Peleburan (fusi) dari organisasi pemuda itu ternyata semakin lama semakin diperlukan karena kaum pemuda sangat merasakan bahwa bentuk organisasi masih bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong
Ambon, Jong Bataks Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond, Studerence Minahasa, dan pemuda kaum Theosofi. Hal ini jelas tampak adanya perbedaan pada waktu diselenggarakan Kongres pemuda I. Dalam pembicaraan ternyata kepentingan daerah masih sangat
menonjol. Masalah bahasa juga menunjukkan masalah yang tak mudah mendapatkan kesepakatan dalam kongres tersebut. Di samping itu juga masih tampak sifat mementingkan daerah misalnya tentang adat yang ada di daerah masing – masing. Untuk membentuk cita – cita bersama seperti rasa
persatuan dan kesatuan bangsa, maka hal – hal tersebut sangat menghambat. Untuk itulah, maka para peserta merasa tidak puas dan ingin melanjutkan Kongres Pemuda yang berikutnya.

Kongres Pemuda II 

Ide penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan
Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia.Kongres Pemuda II yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
dilaksanakan oleh para pemuda yang berbeda suku, agama, ras, dan cara pandang politik. Pemuda Jawa diwakili Jong Java, pemuda Batak diwakili Jong Batak, pemuda Sulawesi diwakili Jong Celebes dan lain-lain. Dari pemuda Tionghoa, tercatat Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey
Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie. Dari sejarah Sumpah Pemuda ini, dapat kita ambil nilai-nilai persatuan
dan kesatuan bangsa dan membuktikan bahwa ternyata berbagai perbedaan dapat disatukan. Walaupun Sumpah Pemuda terjadi di zaman dahulu, tetapi ada nilai-nilai luhur yang masih bisa kita terima dan kita amalkan. Adapun nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Sumpah
Pemuda adalah sebagai berikut :
1) Cinta Bangsa dan Tanah Air
Sumpah Pemuda berisi ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, yaitu bahasa Indonesia. Inilah wujud dari rasa cinta bangsa dan tanah air (nasionalisme) yang dinyatakan para pemuda di tahun
1928. Cinta terhadap bangsa dan tanah air artinya kita setia dan bangga terhadap bangsa dan negara Indonesia.
2) Persatuan
Sumpah Pemuda dirumuskan dan diikrarkan oleh pemuda dari daerah, suku, agama, dan golongan yang berbeda. Perbedaan tidak menjadi penghalang bagi para pemuda untuk bersatu dalam satu
wadah, yakni satu bangsa Indonesia. Ikrar ini kemudian dilanjutkan dalam bentuk bersatu padu untuk berjuang melawan penjajah demi mendapatkan kemerdekaan.
3) Sikap Rela Berkorban
Rela berkorban artinya kesediaan dengan ikhlas untuk memberikan segala sesuatu yang dimilikinya, sekalipun menimbulkan penderitaan bagi dirinya sendiri. Rela berkorban untuk kepentingan banyak orang terlebih untuk kepentingan bangsa dan negara akan memperkuat persatuan dan kesatuan. Begitu juga yang dilakukan oleh para pemuda dalam peristiwa Sumpah Pemuda maupun dalam perjuangan merebut kemerdekaan, para pemuda dengan ikhlas berkorban untuk bangsa dan negara tanpa mengharapkan imbalan meski telah mengorbankan banyak tenaga dan pikiran demi kemerdekaan bangsa.


Sumber Direktorat guru dan tenaga kependidikan kementrian pendidikan dan kebudayaan 2019,Program peningkatan keprofesian melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran ( PKP)paket 4 bhineka tunggal Ika

 


Rabu, 25 November 2020

PGP-Angkatan I Kota Sorong Rusnah Djalaluddin,S.Pd 1.1 Aksi Nyata

Profil Pelajar Pancasila

Mandiri Belajar di masa Pandemi

                   Peserta didik kelas VIII  yang sama sekali tidak mengikuti daring maupun luring

 A.Latar Belakang

Pandemi covid -19 merebak sejak awal Maret ,membuat dunia pendidikan terkena  imbasnya. Kegiatan  belajar mengajar yang sebelumnya tatap muka harus dilaksanakan secara daring atau online,pelaksanaan daring juga mengalami kendala karena sebagian peserta didik tidak memiliki gadget.Salah satunya seperti yang terjadi di SMP Negeri 5 Kota Sorong ,sebagian kecil peserta didik mengikuti program belajar secara luring.Bila dirincikan dari kelas VIII yang diajar oleh CGP  ada 19% dari 126 peserta didik yang belajar luring dan 81 % belajar daring.Tetapi sangat disayangkan karena sampai 3 bulan  pembelajaran luring ada sekitar 6 siswa  yang belum terdata sama sekali belajar daring maupun luring.

            Berdasarkan data di atas CGP  tergerak untuk mengetahui alasan ketidak hadiran mereka dalam kegiatan pembelajran dan memberikan motivasi belajar mandiri di masa pandemi.

 B..Diskripsi Kegiatan

1.Kepala Sekolah                    

 Melapor kepada kepala sekolah tentang upaya   menumbuhkan profil pelajar pancasila    peserta didik yang sama sekali tidak mengikuti pembelajaran online maupun luring.Atas saran    dan motivasi kepala sekolah calon guru  penggerak melaksanakan tindakan aksi nyata  di lapangan

                                      

 2.Rekan Sejawat        

Rekan sejawat baik guru BK,dan guru mata pelajaran sangat membantu ,karena   dengan   kesamaan laporan tentang  kehadiran  peserta didik dalam kegiatan   pembelajaran menjadi  data yang penting  bagi guru penggerak melaksanakan aksi nyatanya,terutama peserta didik  yang sama   sekali  tidak mengikuti daring maupun  luring.Ketidak hadiran peserta didik  membuat  cemas,.karena guru juga  sebagai orang  tua di sekolah. merasa gelisah dan bertanya-tanya penyebab perseta  tidak sekolah  baik daring,maupun luring karena ini terkait keberhasilan peserta didik.

                             

3. Orang Tua/Wali   

Hal pertama dalam menjalankan aksi di lapangan adalah mengunjungi rumah peserta didik dan  menanyakan kepada orang tua dan peserta didik mengapa anaknya tidak mengikuti pembelajaran daring bahkan luring.Alasan orang tua tidak memiliki hp, tempat tinggal yang jauh dan  takut akan  virus pandemi  membuat orang tuapun tidak melalukan apa -apa ketika anaknya tidak ke sekolah.Beberapa orang tua sibuk mencari nafkah sehingga tidak memperhatikan anak sekolah atau tidak,karena dengan adanya pandemi covid -19 membuat penghasilan orang tua berkurang sehingga lupa bahkan berpikir sekolah libur.Dengan kehadiran guru membuat orang tua sadar akan pentingnya belajar/ ,Kesempatan ini CPG mengajak orang tua untuk sama-sama menuntun anak karena bila hanya guru itu tidak akan berhasil karena pendidikan itu seperti menanam benih orang tua dan guru adalah petani yang merawat dan menuntun anak.

                                      

 C.Hasil Aksi Nyata

a.       Guru membuat quisener untuk mengetahui  penyebab dan apa yang dirasakan siswa ketika tidak      belajar  selama beberapa bulan.

b.      Guru memberi motivasi dengan filosofi pemeikiran ki Hajar Dewantara belajar mandiri bebas dari rasa  takut   dan cemas  menuju profil pelajar pancasila  yang mandiri.  

c.     Guru memberikan modul,bank soal,lembar kerja yang sudah dipersiapkan  dan peserta didik belajar mandiri di rumah.Dengan adanya  pandemi guru   tidak berani terlalu lama di rumah peserta didik  mengingat sistem adat yang masih kuat artinya  jangan sampai terjadi sesuatu akibat pandemi. 

d.      Peserta didik mengumpulkan tugassecara mandiri  dan mempresentasikan

e.     Stelah 3 pertemuan guru memberikan quisioner tetang tanggapan peserta didik dalam pelaksanaan belajar.

                           

       

D. Pembelajaran yang didapat 

Setelah melakukan aksi nyata  CGP merasa bahwa semua anak memiliki keinginan yang sama yaitu belajar sayangnya keadaan ekonomi keluarga ,rasa takut akan pandemi covid -19 dan tidak memiliki gadget membuat mereka berdiam di rumah. Guru haruslah sabar dan memahami keadaan peserta didik kemudian merubah peserta didik kearah yang lebih positif.contoh selalu mencari informasi ke rumah teman terdekat.Belum merdeka belajarlah yang membuat peserta didik merasa malu,sedih,takut ,tertekan dengan aksi nyata  perlahan Peserta didik mengenal dirinya dan keluar dara rasa tidak nyaman menjadi nyaman dan bebas dalam belajar.

 

.E.Dokumentasi.

  Foto-foto  saat pelaksanaan aksi nyata

Sebelum Belajar guru mengajak siswa yang tidak pernah belajar mengisi quisioner

 

                                   

 

 Pelaksanaaan Aksi Nyata

 

   

 

                                                                                       


                                          


Diagram di atas adalah setelah mengikuti pwlajaran aksi nyata

                                                        Sekian Dan terima Kasih